Search This Blog

Sunday, October 22, 2017

LINKIN PARK: Aksi-Aksi Panggung Terbaik



Buat kalian generasi yang lahir di era 80 dan 90-an, bersyukur banget bisa jadi saksi hidup peralihan abad dan Millenium di masa remaja. Saat itu bersamaan dengan era kejayaan MTV di tanah air dimana para remaja mengenal bermacam genre musik dan video klip. Jika kalian termasuk dalam generasi ini, pasti tahulah diva pop macam Britney Spears (yang jago nge-dance) dan kompetitornya Christina Aguilera (yang populer dengan belahan rambut zig-zag-nya). Ada pula rapper ganteng nan kontroversial bernama Marshall Mathers alias Eminem, sampai divo Latino yang lagu-lagunya pernah menggoyang lantai dansa, Ricky Martin. Rasa-rasanya ingin kembali ke masa itu, hahaha…
Namun itu belum seberapa dibandingkan dengan dominasi boybands menjelang akhir 90-an, di mana hampir semua remaja kala itu bisa menyanyikan bagian reff lagu I Want It That Way milik Backstreet Boys, belasan lagu dari album Westlife dan familiar dengan Bye Bye Bye-nya NSync. Di saat yang sama sebenarnya juga ada beberapa band yang mengusung  genre rock seperti Limp Bizkit, Red Hot Chili Peppers, Metallica, Korn dan Slipknot, tapi hanya sebagian kecil dari teman-teman saya yang menggemari band-band ini.
Menjelang akhir tahun 2000 tiba-tiba hadir sesuatu yang segar sekaligus unik. Sebuah band rock anyar menelurkan album perdananya, muncul pertama kali di layar kaca lewat video klip berjudul One Step Closer yang bagi saya cukup weird. Siapa lagi kalau bukan Linkin Park, band dengan personel multiras yang mengguncang jagad musik dunia lewat album Hybrid Theory.

Linkin Park era 2000
 Kehadiran Linkin Park ternyata mampu menyihir banyak orang untuk mendengarkan musik mereka, yang digambarkan sebagai bentuk ekspresi jiwa muda yang penuh ketidakstabilan emosi, pencarian jati diri dan masalah interaksi sosial remaja. Satu hal yang patut dicatat adalah Linkin Park menuangkan semua ide itu dalam lirik yang puitis (bukan bahasa yang penuh caci maki), dibalut melodi indah yang tak jarang berubah garang karena teriakan penuh penghayatan seorang Chester Bennington. Linkin Park tidak butuh waktu lama untuk menjelma menjadi band rock papan atas dan tour keliling dunia sudah jadi jadwal rutin mereka untuk mempromosikan album.
Di sini saya tidak akan membahas video klip apa saja yang sudah mereka rilis, saya hanya akan mengulas beberapa penampilan panggung terbaik mereka dari satu negara ke negara lain yang konon keren banget untuk disaksikan secara langsung. So, let us check them one by one.

A.   2001
Chester di panggung Rock am Ring Jerman, 2001
1)   Linkin Park - Rock am Ring 2001, Jerman
Rock am Ring (Rock at the ring) adalah festival musik rock tahunan yang diadakan di Jerman sejak tahun 1985 dan masih berlangsung sampai sekarang. Linkin Park pertama kali tampil di festival ini pada tahun 2001, delapan bulan setelah rilisnya Hybrid Theory.
Dihadiri sekitar 65 ribu penonton, mereka menggebrak panggung dengan sangat PD-nya. Jujur saja saya dibuat merinding melihat puluhan ribu manusia melompat bersama saat Chester memulai aksi panggungnya dengan screanging (scream singing) “Come ooonnnn!!!” sebagai intro lagu With You.  It was HUGE, priceless!
Selain membawakan lagu-lagu dari album perdana, mereka juga menyanyikan beberapa bait lagu Sweet Child O’ Mine milik Guns n Roses. Penampilan ditutup dengan single One Step Closer yang puluhan kali lebih keren jika dibawakan secara live. Faktor improvisasi growl ala Chester yang membuat lagu itu jadi lebih bertenaga.
Secara keseluruhan suara Chester di panggung ini jauh lebih gahar daripada versi studio. Saat itu dia masih muda, 25 tahun, dan masih punya energi berlebih untuk berteriak dari awal hingga akhir konser. Wajahnya pun manis, 😊 semanis penampilannya di video klip Crawling yang tidak pernah bosan saya tonton, walaupun tetap saja ada aura murung dan misterius yang terpancar di sana. Sementara itu Mike terlihat polos dengan t-shirt casualnya, tapi tetap tidak bisa dipungkiri rap ala Mike Shinoda tidak kalah dengan rapper band sebelah, Fred Durst. Sedangkan Joe, Rob dan Phoenix masih dengan tubuh langsing mereka; kecuali Brad yang memang kurus dari sananya 😜
Watch their full performance here:


2)   Linkin Park - Rock Im Park 2001, Jerman
Masih dalam satu rangkaian festival dengan Rock am Ring 2001, Linkin Park juga tampil di panggung Rock Im Park. Saat itu belum ada tattoo naga dan bunga mawar di tubuh sang vokalis. Di festival ini jugalah saya pertama kalinya melihat Chester menghisap rokok saat di-interview.
Lihat penampilan mereka di sini:


B.   2003

Linkin Park - Live in Texas 2003
Tampil di Texas Stadium, Irving pada 3 Agustus 2003, Linkin Park membawakan 17 lagu dari album Hybrid Theory dan Meteora. Mereka sekaligus merekamnya untuk dibuat dalam bentuk CD/ DVD sehingga mungkin video konser ini sudah mengalami proses editing. Tapi kita bisa tetap enjoy menikmatinya. Ada satu momen saat Chester membangun kepercayaan diri para penonton untuk terus meraih impian mereka dengan quotes sebelum membawakan lagu P5hng Me A*wy:
“Good luck to everyone of you guys man. We were on the other side of the barricade a few years ago, man. Coming to these shows, seeing our favorite bands and having the dreams. Just persevere, believe in yourself. One day you’ll be up here with us. Or Metallica or Limp Bizkit, Deftones, Mudvayne…”
Mereka populer, tapi mereka bukan selebritis. Apa yang Chester katakan di atas menunjukkan band ini punya sikap rendah hati dan tidak jumawa meskipun mereka sudah terkenal.
Mike the God rapper
Overall, konser ini jadi yang terbaik di 2003 terlepas dari proses editing yang membuat suara penonton jadi terdengar sedikit berbeda dari konser lainnya.
Watch their full performance here:


C.   2004
Linkin Park - Rock am Ring 2004, Jerman
I love his hairstyle here
Tidak ada yang lebih fenomenal di sini selain gaya rambut Chester yang wow 😍  hahaha… Di tahun yang sama juga mereka mengadakan konser di Indonesia untuk pertama kalinya. Pada penampilan di Rock am Ring kali ini entah kenapa Chester terlihat sangat kurus, meskipun suaranya tetap prima seperti di Rock am Ring 2001. Saya ingat dengan komentar seorang teman tentang suara Chester yang katanya seperti mempunyai equalizer sendiri dalam tenggorokannya. Ya, dalam sekejap Chester bisa merubah teriakannya yang menggelegar menjadi begitu lembut dan bening tanpa cela. He’s the man who can scream like a demon and sing like an angel.
Selain membawakan lagu-lagu dari 2 album, ada juga beberapa lagu dari album demo dan kolaborasi seperti Step Up (LPU special), It’s Going Down (feat The X-ecutioners) dan Wish milik Nine Inch Nails. Bagian yang bisa saya katakan keren adalah intro Numb plus screaming part of A Place for My Head 👍
Watch their full performance here:


D.   2007

Linkin Park – Rock am Ring 2007, Jerman
Membuka penampilan dengan One Step Closer, Mike muncul dengan potongan rambut hampir plontos dan terlihat lebih gemuk dari sebelumnya. Bukan Linkin Park namanya kalau tidak tampil bertenaga. Total mereka membawakan 19 lagu termasuk 6 dari album terbaru, Minutes to Midnight. Outro part of Faint as the last song jadi penutup yang pantas untuk dikenang dalam waktu lama.
Watch their full performance here:

Rob - Dave - Chester - Mike - Joe - Brad
Setelah Minutes to Midnight, Linkin Park masih menelurkan 4 album lain yakni A Thousand Suns, Living Things, The Hunting Party dan One More Light. Bagaimana penampilan panggung mereka saat mempromosikan album-album tersebut? Tunggu ulasan saya di artikel berikutnya ya 😉


Tuesday, June 27, 2017

GALERI FOTO PIERRE TENDEAN (part 2)

Hallooo....
Sepertinya sudah ratusan tahun saya tidak menulis lagi di blog ini.
Kalau dulu saya pernah berbagi foto-foto Kapten Pierre Tendean, kali ini saya akan lanjutkan lagi dengan beberapa koleksi yang mungkin ada di antara teman-teman belum pernah melihatnya.
Dilansir dari beberapa sumber, berikut foto-fotonya.


Pierre saat masih balita
Pierre yang berbaju hitam



Pierre sedang asyik membaca buku

Bisakah teman-teman menebak yang mana beliau di foto ini?

Karena beliau memang beda :)

Saat tergabung dengan tim olahraga di ATEKAD





Pierre Tendean dalam suatu upacara militer di halaman Universitas Padjajaran, Bandung


Bagi yang belum melihat galeri foto edisi pertama bisa klik di sini.

(sumber: facebook/Kapten Pierre Andries Tendean; dokumen ATEKAD angkatan 1962)



Friday, May 22, 2015

MY FIRST STEP!


Inspirasi bisa datang kapan saja dan dimana saja. Bahkan dari kisah-kisah horror yang pernah kita dengar di masa kecil, dituturkan oleh orang tua kita. Begitu pula saya.
Terinspirasi dari kisah itulah lalu saya menulis sebuah cerpen bertema dongeng. Iseng-iseng saya kirimkan ke majalah Bobo, dengan harapan “siapa tahu” dimuat. Saya memang suka menulis cerita sejak kelas 4 SD, tapi yang membacanya hanya sebatas teman-teman dekat saya saja. Saya nggak cukup PD untuk mengirimkan cerita-cerita saya ke media cetak, karena saya belum siap jika naskah saya ditolak.
Pada akhirnya saya terdorong untuk mencoba. Meskipun banyak sumber yang mengatakan bahwa semakin populer sebuah media cetak, maka semakin sulit pula untuk bisa menerbitkan naskah di sana. Apalagi bagi penulis pemula seperti saya yang belum punya pengalaman apa-apa. Tapi apa salahnya dicoba? Toh, tidak ada yang melarang.
Ternyata setelah menunggu selama 10 bulan sejak saya mengirimkan naskah itu, Bobo memuat cerpen saya! Inilah karya pertama saya yang dimuat di media nasional dan rasanya senang sekali! Pertama kali mengirimkan naskah ke sebuah media dan sekalinya dimuat ternyata di majalah sekelas Bobo. Bagaimana tidak senang hati ini, hehehe… :) 
Kamu punya bakat menulis? Menyanyi? Memasak? Apapun itu, jangan pernah menyerah untuk terus berlatih dan mengembangkan diri. Cobalah untuk menghasilkan karya yang bisa dinikmati banyak orang dan memberi mereka inspirasi. Tidak ada kata mustahil bagi mereka yang mau berusaha dan memperjuangkannya, selain mendoakannya juga.
Berikut ini cerpen saya yang dimuat di Bobo edisi 07,terbit 21 Mei 2015, berjudul Lentera Perak.

Thursday, December 4, 2014

SOLO CITY, Kota Kecil yang Bersahabat




I love Solo for some reasons.
Ini adalah musim ke-10 saya di kota Solo, tempat dimana saya merantau sejak lulus SMA. Saat itu, bagi kebanyakan masyarakat di Sumatera, keputusan untuk melanjutkan studi di Solo tergolong tidak populer jika dibandingkan dengan kuliah di kota pelajar, Yogyakarta. Tapi karena saya tidak punya saudara di Yogya melainkan di Solo, maka saya tidak ragu untuk hijrah ke kota leluhur saya ini. Dan saya tidak pernah menyesal memilih tinggal di kota Solo, karena hingga detik ini, Tuhan membuat kota Solo menjadi sangat populer, jauh melebihi ekspektasi saya sebelumnya. Selain itu ada banyak hal yang membuat saya mencintai kota kecil ini.

1.       Biaya hidup terjangkau
Kita sudah bisa makan hanya dengan seribu rupiah; menu berupa sego kucing/ nasi goreng/ nasi oseng yang biasa di jual di HIK (Hidangan Istimewa Kampung).

Masih banyak juga tempat-tempat makan yang menjual menu dengan harga murah serta rasa yang enak. Sementara itu biaya kuliah saya pun dulu tergolong yang paling “bersahabat” untuk ukuran universitas negeri di Indonesia.
Universitas Sebelas Maret (UNS)

2.       Warga ramah & sopan
Warga Solo dikenal sebagai pribadi yang santun dan berbudaya. Mereka ramah dan sopan, hal itu ditunjukkan oleh gesture dan cara mereka berbicara (yang mayoritas menggunakan bahasa Jawa halus/ kromo).

3.       Gereja Kristen nomor 3 terbesar se-Indonesia
Saya beruntung bisa beribadah dan berpelayanan di salah satu gereja paling maju, berkembang dan sangat modern di Indonesia, yakni GBI Keluarga Allah di Solo. Gereja ini membuat saya memiliki banyak teman, mendapatkan pekerjaan, meningkatkan skill di bidang tarik suara, mengajari saya berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan, serta lebih membangun iman percaya saya kepada Tuhan.
Berkapasitas 5000 tempat duduk dengan 5 kali jam ibadah setiap hari Minggu, cabang dari gereja ini tersebar di berbagai wilayah di Indonesia bahkan hingga ke Kalimantan dan Papua. Dilengkapi dengan website resmi yang bisa diakses kapan saja, acara ibadah di gereja ini bisa ditonton secara streaming oleh banyak orang di seluruh dunia.

4.       Culture dan kalender event budaya
Pawai festival budaya di jalan-jalan bukan hal yang aneh di Solo. Hampir setiap bulan ada kegiatan budaya yang digelar bersama masyarakat, mulai dari Batik Solo Carnival, Grebeg Sudiro, Gunungan Sekaten, Arak-arakan tumpeng, festival Jenang, festival di Bengawan Solo sampai Solo International Ethnic Music (SIEM).
Festival Jenang
Solo Batik Carnival
Belum lagi ada event-event lain yang menyemarakkan kota Solo sepanjang tahun ini seperti Festival Lampion, Solo City Jazz, SIPA hingga World Military Parachuting Championship bulan September lalu (CISM WMPC).
Festival lampion
5.       Malls & cinemas
Solo Paragon Lifestyle Mall
Kota Solo tergolong kota kecil tetapi disini saya sangat dimanjakan dengan keberadaan beberapa mall sebagai tempat berbelanja dan menonton film. Hanya dengan 15 ribu rupiah untuk film 2D dan 20 ribu rupiah untuk film 3D, saya sudah bisa menonton film-film keluaran terbaru di bioskop yang ada disini.

Bioskop-bioskop di kota Solo, selalu memutar film 1 hari sebelum tanggal rilis resmi film tersebut (seperti yang biasanya tercantum di trailer dan posternya), sehingga bisa dikatakan sangat up to date. Lebih menyenangkan lagi karena bioskop-bioskop tersebut tetap mengedepankan kualitas dan kenyamanan bagi pengunjungnya.


7.       My president’s hometown
       Semua juga tahu bahwa presiden ke-7 kita, Bapak Joko Widodo, berasal dari kota ini, kota yang pernah dipimpinnya sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta. Dan saya bersyukur pernah merasakan menjadi warga Solo yang dipimpin oleh beliau selama beberapa tahun.

Tertarik untuk berkunjung ke kota Solo?
Kami dengan tangan terbuka akan menerima kedatangan Anda :) 
Selamat berkunjung!