![]() |
Buku Biografi Pierre Tendean: Jejak Sang Ajudan |
Judul :
Jejak Sang Ajudan; sebuah biografi Pierre Tendean
Penulis : Ahmad Nowmenta Putra dan Agus
Lisna
Penerbit : Yogyakarta: LeutikaPrio (PT Leutika
Nouvalitera)
Terbitan : Agustus 2018
Tebal : 214 halaman
Genre : Non fiksi
ISBN : 978-602-371-621-0
Harga : Rp.140.000,00
Mendengar
nama Pierre Tendean, apa yang muncul di benak kalian?
Sebagian
besar mungkin teringat dengan peristiwa G30S 1965. Ada juga yang langsung
terbayang paras tampannya yang khas blasteran Indo – Eropa. Sisanya barangkali
akan menghubungkan dengan nama sebuah jalan di Jakarta yang terkenal macet.
Lalu
siapa sosok Pierre Tendean yang sebenarnya? Apa yang membuatnya terlibat dalam
sejarah kelam bangsa kita 53 tahun yang lalu? Mengapa namanya dijadikan sebagai
nama jalan di banyak kota di Indonesia? Dan apakah dia benar-benar tampan?
Menta
dan Lisna yang sama-sama menyukai sejarah menuangkan hasil riset mereka dalam
sebuah buku biografi berjudul Jejak Sang Ajudan. Buku ini digagas oleh Menta
yang punya ketertarikan besar pada kiprah Kapten Pierre Tendean, dengan
menggandeng Lisna yang notabene adalah penulis blog yang populer di kalangan
penggemar sang Kapten.
Dilihat
dari covernya, buku ini tampak menarik dengan foto Pierre berseragam hijau TNI
AD di atas dasar putih. Masuk ke halaman pertama kita disuguhi kolase foto-foto
beliau dengan berbagai pose, yang sudah barang tentu mengundang mata ini untuk
melihat lebih jeli lagi. Salah satu hal yang saya suka dari buku ini adalah
penyajian foto-foto Pierre Tendean yang berwarna, yang belum pernah saya
temukan di buku lain manapun yang pernah ada.
SINOPSIS
Buku ini berkisah
tentang perjalanan hidup salah satu Pahlawan Revolusi termuda, Pierre Tendean,
sejak beliau lahir sampai gugur di usia 26 tahun. Pierre Tendean dikenal ceria,
bertoleransi tinggi dan bergaul dengan semua kalangan sejak belia, meskipun
lahir dari keluarga berada. Masa kecilnya diisi dengan banyak aktivitas
menyenangkan bersama kakak dan teman-teman sepermainannya. Menginjak usia
remaja Pierre yang aktif dalam kegiatan sekolah ternyata juga pernah terlibat
perkelahian antar pelajar hingga harus mendapat pendisiplinan dari yang
berwenang. Ketertarikannya pada dunia militer tumbuh seiring Pierre beranjak
dewasa.
Setelah melalui beberapa
trik untuk bisa meyakinkan orang tua agar mengijinkannya masuk ranah militer,
akhirnya Pierre Tendean berhasil mewujudkan mimpinya menjadi taruna TNI AD
berpangkat Letnan Dua. Berbagai tugas berbahaya diembannya selepas lulus pendidikan
taruna, salah satunya menjadi agen intelijen di Malaysia pada masa Dwikora. Kepiawaiannya
dalam bertugas membuat Jenderal AH Nasution tak ragu menjadikannya ajudan, selain
karena memang Pierre sudah dikenal oleh keluarga pak Nas sejak kecil. Maka terhitung
Pierre Tendean menjadi ajudan Menko Hankam/ Kepala Staff ABRI itu selama kurang
dari enam bulan, hingga beliau dinyatakan gugur pada 1 Oktober 1965 pagi dalam
sebuah gerakan yang dinamakan G30S.
![]() |
Halaman buku yang memuat foto berwarna |
Buku
berisi tujuh bab ini dimulai dengan kisah lahirnya Pierre Tendean pada akhir
1930-an. Penulis menjabarkan detail suasana saat itu dengan bahasa yang puitis
sampai saya larut layaknya sedang membaca kisah fiksi. Padahal ini buku
biografi, lho. Menta dan Lisna menggiring imajinasi pembaca untuk ikut masuk ke
dalam kisah yang sedang disajikan, lewat gaya tulisan yang kaya dengan
kosakata. Kebetulan saya suka belajar kosakata baru, dan membaca bab-bab awal
ini bisa menambah perbendaharaan kata saya yang tidak seberapa. Pada bab-bab
berikutnya penulis masih mempertahankan gaya bahasa puitisnya ini, tapi tidak
sampai pada keseluruhan bab. Kemungkinan karena di beberapa bagian disisipkan
kutipan naskah dari banyak sumber.
Secara
alur, saya melihatnya sebagai alur yang maju – mundur. Di saat saya sedang
asyik menyelami sebuah kisah yang tertulis di situ, tiba-tiba saya ditarik
mundur ke belakang untuk memahami peristiwa yang terjadi sebelumnya, entah itu
terkait secara langsung maupun hanya sebagai latar belakang kisah. Pastinya
penulis menggunakan itu sebagai flashback
untuk memberikan tambahan penjelasan pada pembaca tentang peristiwa yang
terjadi sesudahnya.
Info
yang diberikan Menta dan Lisna di buku ini sangat lengkap. Jadi pembaca tidak
perlu khawatir mengenai latar belakang tempat maupun suasana karena ada banyak
kutipan sumber yang dimasukkan dalam naskah. Misalnya saja saat dokter AL
Tendean dibawa oleh gerombolan PKI pada tahun 1948, maka penulis menyertakan
info seputar pemberontakan PKI di Madiun pada tahun yang sama. Di satu sisi
penambahan kutipan ini menambah wawasan kita tentang situasi saat itu, tapi di
sisi lain membuat saya kehilangan fokus pada kisah Pierre itu sendiri karena
jangkauan pemahaman kejadiannya menjadi lebih luas. Mungkin saya harus lebih
bisa memfokuskan diri dalam hal ini, haha… 😅
Secara
keseluruhan saya paling tersentuh dengan bab terakhir yang mengisahkan
masa-masa berkabung keluarga Tendean pasca gugurnya Pierre. Meskipun gaya
penulisannya lebih sederhana dibanding bab awal, tapi saya tetap bisa hanyut
menyelami kisah di dalamnya. Saya bahkan sempat mbrebes saat membaca bab ini lho, saking bapernya.
Untuk
yang mengaku penggemar sejarah, atau bahkan yang hanya menaruh minat pada sosok
Kapten legendaris Indonesia ini, pokoknya buku ini wajib ada di ruang baca
kalian. Selain karena ada banyak foto berwarna di dalamnya, buku ini juga
dicetak menggunakan kertas berkualitas. Dijamin nggak bakal nyesel deh.
Nah,
jadi itu review saya untuk buku biografi Pierre Tendean. Semoga bisa memberi
gambaran buat teman-teman yang ingin mendapatkan bukunya 😊