31 Agustus 2002.
Itulah saat dimana saya untuk pertama kalinya menonton pertandingan
Real Madrid, tepatnya di Piala Super Eropa 2002. Setelah sebelumnya jatuh cinta
pada sosok Iker Casillas yang tampil ciamik bersama Spanyol di Piala Dunia 2002
di Jepang dan Korea Selatan, saya mencari tahu keberadaannya dan menemukan
bahwa ia adalah penjaga gawang di klub ibukota Spanyol itu.
![]() |
Iker Casillas di pesta La Decima-Bernabeu, Mei 2014 |
Tanpa mengetahui seperti apa sejarah Real Madrid dalam dunia
sepakbola, saya mulai mengikuti dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya,
hanya untuk melihat sang kiper. Saat itu La Liga belum disiarkan di TV
terrestrial seperti sekarang ini, jadi saya hanya bisa menyaksikan Casillas dkk
beraksi di ajang Liga Champions, maksimal 2-3 pertandingan dalam kurun waktu
satu bulan.
Awal tahun 2000-an sebenarnya Real Madrid tidak populer di kalangan
anak-anak sekolah seperti saya kala itu. Mayoritas dari mereka lebih memilih
tim-tim serie-A Italia seperti Juventus dan AC Milan, serta tim-tim EPL seperti
Manchester United atau Liverpool. Itu disebabkan karena Liga Italia disiarkan
di Indonesia dalam beberapa tahun. Sehingga bisa dikatakan bahwa hanya saya
satu-satunya pendukung Real Madrid di kelas saya, atau bahkan di hampir semua
kelas seangkatan saya saat itu.
Saya yang awalnya tidak mengetahui seluk beluk persepakbolaan Eropa, berusaha
mencari tahu melalui tabloid-tabloid olahraga. Salah satu tabloid favorit saya
adalah Tabloid Soccer, yang kala itu baru saja diterbitkan (masih eksis dan
terus berkibar hingga kini). Dari situlah saya akhirnya tahu bahwa Real Madrid
bukan klub sepakbola biasa, ditilik dari sejarah yang telah berhasil mereka
ukir. Tapi bukan itu alasan saya memilih Real Madrid sebagai klub favorit saya.
Bukan pula karena Los Blancos diisi
pemain-pemain top dunia seperti Zidane, Ronaldo, Beckham, Owen, Figo maupun
generasi terbaru macam Cristiano Ronaldo cs, tapi karena sosok sang penjaga
gawang, Iker Casillas. Pemain yang (dulu) tidak pernah saya duga akan tercatat
namanya dengan tinta emas dalam buku rekor sepakbola dunia sebagai satu dari
sedikit pesepakbola yang punya prestasi mengagumkan.
Madridista seperti saya harus menunggu selama 12 tahun untuk bisa
melihat Real Madrid mengangkat trofi Liga Champions lagi. Sebelumnya malah saya
tidak ikut menyaksikan mereka memenangi trofi ke-9 karena saya baru ‘menemukan’
Casillas saat Piala Dunia, 3 minggu setelah ia memenangkan si ‘kuping besar’
itu.
![]() |
Real Madrid juara Liga Champions ke-10 kalinya, Mei 2014 |
Waktu 12 tahun tidaklah singkat. Saya boleh berbangga menjadi saksi
hidup perubahan demi perubahan sebuah klub sepakbola yang kini menjadi yang
terkaya di dunia. Pemain, pelatih dan presiden boleh datang silih berganti,
tapi Real Madrid tetaplah Real Madrid. Klub dengan segudang prestasi dan
filosofi sepakbola menyerang, bermain indah, mencetak banyak gol dan banyak
rekor, terbaik dari yang terbaik.
I’m 100% Madridista.
Pase lo que pase, Real Madrid
por siempre.
Hala Madrid!