I love Solo for
some reasons.
Ini adalah musim ke-10 saya di kota Solo, tempat
dimana saya merantau sejak lulus SMA. Saat itu, bagi kebanyakan masyarakat di
Sumatera, keputusan untuk melanjutkan studi di Solo tergolong tidak populer
jika dibandingkan dengan kuliah di kota pelajar, Yogyakarta. Tapi karena saya
tidak punya saudara di Yogya melainkan di Solo, maka saya tidak ragu untuk
hijrah ke kota leluhur saya ini. Dan saya tidak pernah menyesal memilih tinggal
di kota Solo, karena hingga detik ini, Tuhan membuat kota Solo menjadi sangat
populer, jauh melebihi ekspektasi saya sebelumnya. Selain itu ada banyak hal
yang membuat saya mencintai kota kecil ini.
1.
Biaya hidup terjangkau
Kita sudah bisa makan hanya dengan seribu
rupiah; menu berupa sego kucing/ nasi goreng/ nasi oseng yang biasa di jual di
HIK (Hidangan Istimewa Kampung).
Masih banyak juga tempat-tempat makan yang
menjual menu dengan harga murah serta rasa yang enak. Sementara itu biaya
kuliah saya pun dulu tergolong yang paling “bersahabat” untuk ukuran
universitas negeri di Indonesia.
2.
Warga ramah & sopan
Warga Solo dikenal sebagai pribadi yang
santun dan berbudaya. Mereka ramah dan sopan, hal itu ditunjukkan oleh gesture
dan cara mereka berbicara (yang mayoritas menggunakan bahasa Jawa halus/ kromo).
3.
Gereja Kristen nomor 3 terbesar se-Indonesia
Saya beruntung bisa beribadah dan
berpelayanan di salah satu gereja paling maju, berkembang dan sangat modern di
Indonesia, yakni GBI Keluarga Allah di Solo. Gereja ini membuat saya memiliki
banyak teman, mendapatkan pekerjaan, meningkatkan skill di bidang tarik suara,
mengajari saya berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan, serta lebih
membangun iman percaya saya kepada Tuhan.
Berkapasitas 5000 tempat duduk dengan 5
kali jam ibadah setiap hari Minggu, cabang dari gereja ini tersebar di berbagai
wilayah di Indonesia bahkan hingga ke Kalimantan dan Papua. Dilengkapi dengan
website resmi yang bisa diakses kapan saja, acara ibadah di gereja ini bisa
ditonton secara streaming oleh banyak
orang di seluruh dunia.
4.
Culture dan kalender event budaya
Pawai festival budaya di jalan-jalan bukan
hal yang aneh di Solo. Hampir setiap bulan ada kegiatan budaya yang digelar
bersama masyarakat, mulai dari Batik Solo Carnival, Grebeg Sudiro, Gunungan Sekaten,
Arak-arakan tumpeng, festival Jenang, festival di Bengawan Solo sampai Solo International Ethnic
Music (SIEM).
![]() |
Festival Jenang |
![]() |
Solo Batik Carnival |
Belum lagi ada event-event lain yang menyemarakkan kota Solo
sepanjang tahun ini seperti Festival Lampion, Solo City Jazz, SIPA hingga World
Military Parachuting Championship bulan September lalu (CISM WMPC).
5.
Malls & cinemas
![]() |
Solo Paragon Lifestyle Mall |
Kota Solo tergolong kota kecil tetapi disini saya sangat dimanjakan dengan keberadaan beberapa mall sebagai tempat berbelanja dan menonton film. Hanya dengan 15 ribu rupiah untuk film 2D dan 20 ribu rupiah untuk film 3D, saya sudah bisa menonton film-film keluaran terbaru di bioskop yang ada disini.
Bioskop-bioskop di kota Solo, selalu memutar film 1 hari sebelum tanggal rilis resmi film tersebut (seperti yang biasanya tercantum di trailer dan posternya), sehingga bisa dikatakan sangat up to date. Lebih menyenangkan lagi karena bioskop-bioskop tersebut tetap mengedepankan kualitas dan kenyamanan bagi pengunjungnya.
7.
My president’s hometown
Semua juga tahu bahwa presiden ke-7 kita, Bapak Joko Widodo, berasal dari kota ini, kota yang pernah dipimpinnya sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta. Dan saya bersyukur pernah merasakan menjadi warga Solo yang dipimpin oleh beliau selama beberapa tahun.
Tertarik untuk berkunjung ke kota Solo?
Kami dengan tangan terbuka akan menerima kedatangan Anda :)
Selamat berkunjung!